Pemerintah dan masyarakat Desa Mantang Besar kembali merawat warisan leluhur dengan menggelar tradisi Mandi Safar pada Rabu, 12 Agustus 2026. Bertepatan dengan penghujung bulan Safar dalam kalender Hijriah, kegiatan ini berlangsung khidmat dan dipenuhi oleh antusiasme warga dari berbagai kalangan usia.
Rangkaian acara diawali dengan pelaksanaan Kenduri Tolak Bala yang dipimpin oleh tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat. Kenduri ini diisi dengan lantunan zikir, doa bersama, serta selawat, sebagai bentuk permohonan kepada Sang Pencipta agar seluruh warga desa dijauhkan dari segala macam musibah, penyakit, dan keburukan.
Setelah prosesi doa bersama selesai, kegiatan dilanjutkan dengan puncak tradisi, yakni Mandi Safar. Warga dianjurkan untuk membasuh diri menggunakan "air doa"—air yang sebelumnya telah dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an dan doa-doa keselamatan.
Prosesi mandi ini tidak dilakukan sembarangan, melainkan harus diawali dengan niat yang tulus di dalam hati. Niat tersebut difokuskan untuk membersihkan diri dari segala dosa, menyucikan jiwa, serta membuang sifat-ve sifat buruk yang ada di dalam diri manusia.
"Tradisi Mandi Safar dan Kenduri Tolak Bala ini bukan sekadar ritual tahunan, tetapi menjadi pengingat bagi kita semua untuk senantiasa menyucikan hati, memperbaiki diri, dan mempererat tali silaturahmi antarwarga. Ini adalah kekayaan budaya agamis yang harus terus kita wariskan kepada generasi muda."
Bagi masyarakat pesisir seperti di Desa Mantang Besar, tradisi Mandi Safar memiliki makna filosofis yang sangat dalam. Air melambangkan sumber kehidupan dan kesucian, sementara doa bersama mencerminkan semangat gotong royong dan kepedulian sosial.
Melalui pelaksanaan tradisi ini, diharapkan Desa Mantang Besar senantiasa dilimpahi keberkahan, kedamaian, dan kerukunan, serta seluruh warganya dijauhkan dari segala bentuk bahaya di masa yang akan datang.
